Jumat, 05 Maret 2010

Uji Anion Secara Basah

Percobaan IV
IDENTIFIKASI ANION SECARA BASAH


Tujuan : Mengidentifikasi reaksi yang dialami beberapa anion serta mengenal bentuk dan warna hasil reaksinya.
Hari/Tanggal : Selasa, 31 Maret 2009
Jurusan/Fakultas : Pendidikan Kimia/MIPA
Nama Kelompok : Putu Eka Surya Putra (0713031001)
I Wayan Sugiata (0713031002)
Luh Murniasih (0713031010)
I. Pendahuluan
Analisis kualitatif kebanyakan dilakukan dengan cara basah yaitu untuk zat-zat dalam bentuk larutan. Suatu reaksi diketahui berlangsung apabila terjadi pembentukan endapan, pembentukan gas, atau perubahan warna larutan. Dalam kaitannya dengan teknik analisis kualitatif, pembentukan endapan meliputi proses pengendapan, penyaringan endapan, penguapan pelarut, dan pengeringan endapan. Pengetahuan tentang teknik-teknik di atas merupakan hal yang penting agar proses analisis (kualitatif) dapat berlangsung dengan baik.
Reaksi secara basah adalah reaksi yang berlangsung dalam wujud cair menggunakan pelarut air. Hasil reaksi yang dialami oleh anion dapat berupa endapan garam. Asam-asam lemah, gas, dan dapat pula berupa ion kompleks. Misalnya, apabila sampel yang digunakan mengandung ion CN-:
a. Pereaksi yang digunakan mengandung ion Ag+ dalam jumlah ekivalen, maka reaksinya adalah
Ag+ + CN- → AgCN
b. Pereaksi yang digunakan mengandung ion Fe3+ dalam jumlah yang tidak ekivalen untuk membentuk endapan Fe(CN)3. Reaksinya adalah
Fe3+ + 2CN- → Fe(CN)2+ atau
Fe3+ + 4CN- → Fe(CN)4-
Berturut-turut untuk jumlah Fe3+ yang ditambahkan lebih besar dan lebih kecil dari yang diperlukan.
c. Pereaksi yang digunakan mengandung ion H3O+ dalam jumlah ekivalen untuk membentuk senyawa asamnya. Reaksinya adalah
H+ + CN- → HCN(aq) → HCN (g)
Macam reaksi yang mungkin dialami oleh anion atau senyawanya adalah reaksi redoks dan bukan redoks.
a. Reaksi redoks, misalnya antara MnO4- dengan Fe2+ dalam suasana asam
MnO4- + 5Fe2+ + 8H3O+ → Mn2+ + 5Fe3+ + 12H2O
b. Reaksi non redoks, misalnya reaksi antara ion CH3COO- dengan ion Ca2+
2CH3COO- + Ca2+ → Ca(CH3COO)2

II. Alat dan Bahan


Alat Jumlah
Tabung reaksi 1 rak
Pengalir gas 1 buah
Pemanas 1 buah
Pipet tetes 3 buah
Corong 1 buah
Penjepit tabung 1 buah
Plat tetes 1 buah

Bahan Keterangan Bahan Keterangan
NaCl Secukupnya KMnO4 Secukupnya
AgNO3 Secukupnya FeSO4 25% Secukupnya
HNO3 Secukupnya CH3COOH Secukupnya
NH3 Secukupnya BaCO3 Secukupnya
Hg2(NO3)2 Secukupnya BaCl2 Secukupnya
NaBr Secukupnya Na2C2O4 Secukupnya
H2SO4 pekat Secukupnya NHPO4.2H2O Secukupnya
KI Secukupnya Na2S2O4 Secukupnya
K4Fe(CN)6 Secukupnya Na2SO4 Secukupnya
Pb(NO3)2 Secukupnya KNO3 Secukupnya
K3Fe(CN)6 Secukupnya NaOH Secukupnya
CuSO4 Secukupnya Logam Zn Secukupnya
KCN Secukupnya Pb(CH3COO)2 Secukupnya
FeCl3 Secukupnya Aquades Secukupnya
FeSO4NH2.6H2O Secukupnya Kertas Lakmus Secukupnya
KNO2 Secukupnya
III. Prosedur Kerja

3.1 Identifikasi ion Klorida (larutan uji NaCl 0,1 M)
a. Larutan AgNO3 ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk endapan putih dari AgCl). Kemudian endapan ini diidentifikasi masing-masing dengan HNO3 dan NH3.



















b. Larutan Hg2(NO3)2 ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk endapan putih Hg2Cl2).


· Setelah larutan uji NaCl (tidak berwarna) 0,1 M ditambahkan larutan AgNO3 (tidak berwarna) terbentuk endapan putih AgCl.


· Setelah ditambahkan HNO3 pada endapan putih AgCl tersebut, endapan AgCl tidak larut dan larutannya tetap tidak berwarna.
· Setelah ditambahkan NH3 endapan putih AgCl menjadi larut.

· Prosedur b tidak dilakukan karena tidak tersedia Larutan Hg2(NO3)2 di laboratorium.
3.2 Identifikasi ion Bromida (larutan uji KBr pekat)
a. Larutan asam sulfat pekat ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk HBr dan Br2), sehingga larutan akan menjadi coklat, dan jika dipanaskan akan keluar uap berwarna kuning coklat.






b. Larutan AgNO3 ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk endapan kuning dari AgBr yang larut dalam amonia dan KCN berlebih).

· Setelah larutan uji KBr (tidak berwarna) ditambahkan H2SO4 pekat (tidak berwarna) tidak terbentuk larutan cokelat dan terbentuk uap kuning.

· Setelah larutan uji KBr (tidak berwarna) ditambahkan larutan AgNO3 (tidak berwarna) terbentuk endapan kuning AgBr.

· Setelah ditambahkan KSCN (tidak berwarna) pada endapan kuning tersebut, endapannya menjadi larut.
· Setelah ditambahkan NH3 (tidak berwarna) pada endapan kuning tersebut, endapannya menjadi larut.

3.3 Identifikasi ion Iodida (larutan uji KI 0,1 M)
a. Asam sulafat pekat ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk uap kuning atau violet dari I2 dan mungkin bersama gas HI, H2S atau endapan S yang berwarna kuning).








b. Larutan AgNO3 ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk endapan kuning dari AgI yang larut dalam amonia dan KCN berlebih)

· Setelah larutan uji KI (tidak berwarna) ditambahkan H2SO4 pekat, tidak terbentuk larutan yang berwarna kuning atau violet atau endapan yang berwarna kuning.


· Setelah AgNO3 ditambahkan pada larutan uji terbentuk endapan kuning AgI.

· Setelah ditambahkan NH3, endapan AgI menjadi larut.
· Setelah ditambahkan KSCN, endapan AgI menjadi larut.
3.4 Identifikasi ion Ferrosianida (larutan uji K4FeCN6 0,2 M)
a. Asam sulfat pekat ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk gas CO dan SO2 hasil oksidasi ferro jadi ferri oleh asam).







b. Larutan garam timbal pekat ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk endapan putih yang tidak larut dalam asam nitrat encer)

· Setelah H2SO4 ditambahkan pada larutan uji K4FeCN6 0,2 M (kuning jernih), tidak terbentuk terbentuk gas, larutan tetap berwarna kuning.


· Setelah larutan uji K4FeCN6 0,2 M (kuning jernih) ditambahkan larutan Pb(NO3)2 yang tidak berwarna, terbentuk endapan putih.

· Setelah ditambahkan HNO3 encer, endapan putih tersebut tidak larut.
3.5 Identifikasi ion Ferrisianida (larutan uji K3[Fe(CN)6] 0,2 M)
a. Larutan AgNO3 ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk endapan merah oranye dari Ag3[Fe(CN)6] yang larut dalam amonia tapi tidak larut dalam HNO3)
b. Larutan CuSO4 ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk endapan berwarna hijau dari kupriferrisianida)

· Terbentuk larutan yang berwarna merah keoranyean. Setelah ditambahkan dengan larutan ammonia, terbentuk dua lapisan cairan dimana wrana yang diatas adalah kuning sedangkan yang dibawah adalah kuning kecoklatan.
· Terbentuk endapan berwarna hijau kecoklatan.
3.6 Identifikasi ion tiosianat (larutan uji KSCN 0,1 M)
a. Larutan AgNO3 ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentu endapan putih perak tiosianat yang larut dalam amonia tetapi tidak larut dalam HNO3 encer)
b. Larutan garam ferri ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk endapan berwarna merah darah dari Fe(CNS)3) selanjutnya ke dalam larutan yang terbentuk ditambahkan Hg2+ atau C2O42-, amati apa yang terjadi.

· Setelah larutan uji KSCN (tidak berwarna) ditambahkan larutan AgNO3 (tidak berwarna), terbentuk endapan putih perak tiosianat.

· Ditambahkan NH3, endapan putih perak tiosianat larut.
· Ditambahkan HNO3 encer, endapan putih perak tiosianat tidak larut.
· Setelah larutan uji KSCN ditambahkan larutan FeCl3, terbentuk endapan berwarna merah darah.

· Ditambahkan Na2C2O4, endapan berwarna merah darah warnanya memudar (menjadi coklat keemasan).
3.7 Identifikasi ion nitrit (larutan uji KNO2 0,1 M)
a. Larutan AgNO3 ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk endapan putih bentuk kristalin dari AgNO2).







b. Larutan KMnO4 ditambahkan dalam suasana asam (menyebabkan warna permanganat hilang).


c. FeSO4 25% ditambahkan dalam suasana asam sulfat atau asam asetat encer secara perlahan (akan terbentuk cincin coklat dari FeNOSO4). Apa yang terjadi jika dilakukan dengan cepat.

· Tidak dilakukan karena larutan uji tidak tersedia di laboratorium.
3.8 Identifikasi ion Sulfida (larutan uji Na2S 2 M)
a. Larutan AgNO3 ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk endapan hitam dari Ag2S. Selanjutnya dalam endapan yang terjadi ditambahkan HNO3 encer dan diulangi dengan HNO3 encer panas), perubahan yang terjadi diamati.
b. Larutan HCl atau H2SO4 encer ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk gas H2S yang tidak berwarna dengan bau khas. Gas ini akan memberikan noda hitam pada kertas yang dibasahi dengan Pb-asetat)

· Prosedur ini tidak dilakukan karena Na2S tidak terdapat di laboratorium.
3.9 Identifikasi ion Asetat (larutan uji CH3COONa 2 M)
a. Larutan ferri klorida ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk larutan berwarna merah/coklat dari [Fe3(OH)2(CH3COO)6]- yang dengan pemanasan akan menghasilkan endapan merah coklat dari besi (III) asetat)










b. Larutan AgNO3 ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk endapan kristalin putih dari CH3COOAg. Selanjutnya ke dalam endapan yang terjadi ditambahkan HNO3 encer dan diulangi dengan HNO3 encer panas, perubahan yang terjadi diamati. Selanjutnya endapan ini dipanaskan, perubahan yang terjadi diamati)

· Setelah larutan uji CH3COONa 2 M (tidak berwarna) ditambahkan FeCl3, terbentuk larutan merah cokelatan.

· Selanjutnya dipanaskan dan terbentuk larutan berwarna merah kecoklatan ([Fe3(OH)2(CH3COO)6]-).

· Setelah larutan uji CH3COONa 2 M (tidak berwarna) ditambahkan AgNO3 (tidak berwarna), terbentuk endapan kristalin putih. Setelah ditambahkan asam nitrat encer, endapan melarut kembali. Selanjutnya larutan uji ditambahkan dengan asam nitrat encer panas, mula-mula terbentuk endapan yang banyak kemudian endapan menjadi sedikit yang terbentuk. Setelah endapan dipanaskan, endapan akan hilang/melarut kembali.
3.10 Identifikasi ion Karbonat (larutan uji Na2­CO3 2 M)
a. Larutan asam sulfat encer ditambahkan ke dalam larutan uji (akan timbul gas. Gas yang timbul ditangkap dengan batang gelas yang telah dibasahi dengan kalsium hidroksida, amati yang terjadi).





b. Larutan barium klorida ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk endapan putih barium karbonat. Endapan ini dapat larut dalam asam mineral encer dan asam karbonat)

· Setelah larutan uji Na2­CO3 2 M (tidak berwarna) ditambahkan H2SO4 encer, terbentuk larutan tak berwarna dan terjadi perubahan pada batang gelas yang dibasahi Ca(OH)2 (timbul bercak putih pada batang kaca).
· Setelah larutan uji Na2­CO3 2 M (tidak berwarna) ditambahkan H2SO4 pekat, terbentuk gelembung gas dan ada endapan putih pada batang gelas yang dibasahi larutan Ca(OH)2.

· Setelah larutan uji Na2­CO3 2 M (tidak berwarna) ditambahkan larutan BaCl2 (tidak berwarna), terbentuk endapan putih (BaCO3).

3.11 Identifikasi ion Oksalat (larutan uji Na2C2O4 0,1 M)
a. Larutan AgNO3 ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk endapan putih Ag2C2O4. Endapan ini larut dalam NH3 berlebih dan dalam HNO3 encer)




b. Larutan barium klorida ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk endapan putih BaC2O4. Endapan ini larut dalam asam klorida encer dan asam nitrat encer, tapi tidak larut dalam asam asetat encer dan amonium oksalat)










c. Larutan kalium permanganat ditambahkan ke dalam larutan uji (maka warna permanganat akan hilang)

· Setelah larutan uji Na2C2O4 0,1 M (tidak berwarna) ditambahkan larutan AgNO3, terbentuk endapan putih Ag2C2O4.
· Setelah ditambahkan HNO3 encer, endapan putih Ag2C2O4 larut.
· Setelah ditambahkan NH3 encer, endapan putih Ag2C2O4 larut.


· Setelah larutan uji Na2C2O4 0,1 M (tidak berwarna) ditambahkan Larutan BaCl2, terbentuk endapan putih BaC2O4.

· Setelah ditambahkan larutan HNO3 encer, endapan putih BaC2O4 larut.
· Setelah ditambahkan larutan NaCH3COO, endapan putih BaC2O4 tidak larut.

· Setelah larutan uji Na2C2O4 0,1 M (tidak berwarna) ditambahkan KMnO4 (ungu), terjadi perubahan warna (warna permanganat hilang).

3.12 Identifikasi ion Posfat (larutan uji K2HPO4 0,1 M)
a. Larutan barium klorida ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk endapan putih barium posfat).
b. Larutan ferriklorida ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk endapan putih kekuningan dari ferriposfat).



Tidak dilakukan karena larutan uji tidak disediakan.



3.13 Identifikasi ion Tiosulfat (larutan uji Na2S2O3 0,25 M)
a. Larutan asam sulfat encer ditambahkan ke dalam larutan uji (akan timbul gas yang berbau rangsang dan endapan sulfur).



b. Larutan AgNO3 ditambahkan ke dalam larutan uji (akan tebentuk endapan putih dari Ag2S2O3, yang selanjutnya berubah warna menjadi coklat dan akhirnya menjadi hitam dari Ag2S)

· Setelah larutan uji Na2S2O3 0,25 M ditambahkan H2SO4 encer, terbentuk gas menyengat dan ada endapan sulfur (berwarna kuning).

· Setelah larutan uji Na2S2O4 0,25 M ditambahkan AgNO3, pada awalnya terbentuk endapan putih dan lama-kelamaan berubah menjadi cokelat dan akhirnya menghitam.

3.14 Identifikasi ion Sulfat (larutan uji Na2SO4 0,1 M)
a. Larutan barium klorida ditambahkan ke dalam larutan uji (akan tebentuk endapan putih dari barium sulfat yang larut dalam HCl pekat panas tetapi tidak larut dalam HNO3encer dan HCl encer).








b. Larutan timbal asetat atau timbal nitrat ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk endapan putih dari timbal sulfat yang larut dalam asam sulfat pekat panas dan dalam amonium asetat).

· Setelah larutan uji Na2SO4 0,1 M ditambahkan larutan BaCl2 terbentuk endapan putih BaSO4

· Setelah ditambahkan HNO3encer, endapan putih BaSO4 tidak larut.
· Setelah ditambahkan HCl pekat panas, endapan putih BaSO4 larut.


· Setelah larutan uji Na2SO4 0,1 M ditambahkan larutan Pb(NO3)2, terbentuk endapan putih PbSO4.
· Setelah ditambahkan H2SO4 pekat panas, endapan putih PbSO4 larut.
3.15 Identifikasi ion Nitrat (larutan uji KNO3 0,1 M)
a. Larutan asam sulfat pekat ditambahkan ke dalam larutan uji (akan terbentuk gas NO2 yang berbau dan berwarna coklat, disamping juga gas O2. Bila pereaksinya adalah asam sulfat encer amati apa yang terjadi).
b. Dalam suasana alkalis, logam seng atau aluminium ditambahkan ke dalam larutan uji dan dipanaskan (akan dihasilkan gas NH3)

· Setelah larutan uji KNO3 0,1 M ditambahkan H2SO4 pekat, terbentuk gas NO2 yang berwarna cokelat kemerahan dan warna larutan semakin memudar.


· Prosedur b tidak dilakukan karena tidak tersedia logam Al atau Zn di laboratorium.


IV. PEMBAHASAN
4.1 Identifikasi ion Klorida (Cl-)
a. Untuk mengidentifikasi ion klorida dapat digunakan larutan uji NaCl 0,1 M. Setelah larutan NaCl (tidak berwarna) dengan konsentrasi 0,1 M ditambahkan larutan AgNO3 (tidak berwarna) terbentuk endapan putih AgCl. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
Cl-(aq) + Ag+(aq)→ AgCl(s)
Endapan putih AgCl ini menandakan adanya ion Cl- dalam larutan. Endapan AgCl tidak larut dalam air dan HNO3 encer. Tetapi larut dalam larutan amonia encer. Reaksinya sebagai berikut.
AgCl(s) + 2 NH3(aq) [Ag(NH3)2]+(aq) + Cl-(aq)
AgCl(s) + HNO3(aq)encer tidak ada reaksi
Ion kompleks hanya sedikit mengalami penguraian menghasilkan Ag+ dan NH3 sehingga hasil kali [Ag+][Cl-] > Ksp. Oleh karena itu endapan akan larut.

b. Prosedur b tidak dilakukan karena tidak tersedia Larutan Hg2(NO3)2 di laboratorium. Namun secara teoritis, apabila prosedur ini dilakukan ketika penambahan Hg2(NO3)2 pada larutan NaCl akan terbentuk endapan putih Hg2Cl2. Reaksi yang terjadi sebagai berikut.


4.2 Identifikasi ion Bromida (Br-)
a. Untuk mengidentifikasi ion bromida digunakan larutan uji KBr pekat. Setelah larutan uji KBr yang tidak berwarna ditambahkan H2SO4 pekat (tidak berwarna) tidak terbentuk larutan cokelat dan terbentuk uap kuning. Hal ini mungkin dikarenakan konsentrasi larutan uji kecil. Selain itu asam sulfat pekat yang digunakan sudah lama dan mungkin sudah tidak pekat lagi. Secara teoritis, apabila larutan KBr pekat direaksikan dengan asam sulfat pekat akan terbentuk larutan berwarna coklat yang jika dipanaskan akan keluar uap berwarna kuning coklat. Persamaan reaksnyai sebagai berikut:
KBr(aq) + H2SO4(aq) → HBr(g)↑ + HSO4-(aq) + K+(aq)

b. Identifikasi adanya ion bromida dapat dilakukan dengan larutan AgNO3. Setelah larutan uji KBr (tidak berwarna) ditambahkan larutan AgNO3 (tidak berwarna) terbentuk endapan kuning AgBr. Reaksinya adalah
Br -(aq) + Ag+(aq) →AgBr(s)↓
Setelah ditambahkan KCN (tidak berwarna) pada endapan kuning tersebut, endapannya menjadi larut. Reaksinya adalah
AgBr(s)↓ + 2CN-(aq) →[Ag(CN)2]-(aq) + Br –(aq)
Setelah ditambahkan NH3 (tidak berwarna) pada endapan kuning tersebut, endapannya menjadi larut. Reaksinya adalah
AgBr(s)↓ + 2NH3(aq) →[Ag(NH3)2]+(aq) + Br –(aq)

4.3 Identifikasi ion Iodida (I-)
a. Untuk mengidentifikasi ion iodida digunakan larutan uji KI. Setelah H2SO4 pekat (warnanya bening) ditambahkan dalam larutan uji KI (warnanya bening), tidak terbentuk uap dan larutan yang berwarna kuning sehingga uji terhadap ion iodida negatif dengan asam sulfat pekat. Hal ini disebabkan karena konsentrasi larutan uji kecil. Selain itu asam sulfat pekat yang digunakan sudah lama dan mungkin sudah tidak pekat lagi. Menurut teori, apabila larutan KI 0,1 M direaksikan dengan asam sulfat pekat akan terbentuk uap berwarna kuning atau violet dari I2 dan mungkin bersama gas HI, H2S atau endapan S yang berwarna kuning. Persamaan reaksnyai sebagai berikut:

2I-(aq) + 2H2SO4(aq) → I2↑ + SO42-(aq) + 2H2O(l)
I-(aq) + H2SO4(aq) → HI(g)↑ + HSO4-(aq)
6I-(aq) + 4H2SO4(aq) → 3I2(g)↑ + S(s) ↓ + 2H2O(l) + 3SO42-(aq)
8I-(aq) + 5H2SO4(aq) → 4I2(g)↑ + 4SO42-(aq) + 4H2O(l) + H2S(g)↑

b. Identifikasi ion iodida menggunakan larutan AgNO3. Pada tahap ini dihasilkan endapan kuning dari AgI dimana setelah ditambahkan amonia(NH3) dan KCN berlebih endapan tersebut menjadi larut. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
I(aq)- + Ag+(aq) →AgI(s)$
AgI(s) ↓ + 2CN-(aq) →Ag(CN)2-(aq) + I-(aq)
AgI(s) ↓ + 2NH3(aq) → Ag(NH3)2+ (aq) + I-(aq)

4.4 Identifikasi ion Ferrosianida ([Fe(CN)6]4-)
a. Untuk mengidentifikasi ion Ferrosianida digunakan larutan uji K4[Fe(CN)6]. Setelah H2SO4 pekat ditambahkan pada larutan uji, tidak terjadi perubahan dimana larutan tetap berwarna kuning seperti larutan semula. Padahal identifikasi ion ferrosianida dengan larutan uji K4[Fe(CN)6] 0,2 M menggunakan asam sulfat pekat maka akan terbentuk gas CO dan SO2 hasil oksidasi ferro menjadi ferri oleh asam. Tetapi, hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan teori sehinggan uji larutan K4[Fe(CN)6] dengan asam sulfat pekat menunjukkan hasil yang negatif.
b. Dengan penambahan larutan garam timbal pekat kedalam larutan K4[Fe(CN)6] membentuk endapan putih seperti susu. Reaksinya adalah sebagai berikut
Pb2+(aq) + [Fe(CN)6]4-(aq) Pb2[Fe(CN)6](s)

4.5 Identifikasi ion Ferrisianida ([Fe(CN)6]3-)
a. Untuk mengidentifikasi ion Fe(CN)63- larutan uji K3Fe(CN)6. Setelah direaksikan dengan AgNO3 terbentuk endapan berwarna merah oranye. Setelah ditambahkan dengan larutan ammonia, terbentuk dua lapisan warna dimana yang diatas berwarna kuning sedangkan yang dibawah berwarna kuning kecoklatan. Reaksinya adalah:
Fe(CN)63-(aq) + 3Ag+(aq) Ag3[Fe(CN)6](s)
Endapan dari Ag3Fe(CN)6 ini larut dalam amonia tetapi tidak larut dalam asam nitrat.

b. Dengan penambahan larutan CuSO4 yang berwarna biru ke dalam larutan uji K3Fe(CN)6 membentuk endapan berwarna hijau dari kupri ferrisianida, sesuai dengan reaksi:
2 Fe(CN)63-(aq) + 3 Cu2+(aq) Cu3[Fe(CN)6]2(s)

4.6 Identifikasi ion Tiosianat (SCN-)
a. Untuk mengidentifikasi ion tiosianat digunakan larutan uji KSCN. Ketika larutan uji ditambahkan larutan AgNO3, terbentuk endapan berwarna putih perak tiosianat. Adapun reaksinya adalah :
SCN-(aq) + Ag+(aq) AgSCN(s)
Endapan yang terbentuk dapat larut dalam larutan ammonia dan tidak larut dalam HNO3 encer. Reaksi yang terjadi sebagai berikut.
AgSCN (s) + 2 NH3(aq) [Ag(NH)2]+(aq) + SCN-(aq)
AgSCN(s) + HNO3(aq) tidak ada reaksi

b. Ketika KSCN ditambahkan larutan FeCl3, maka terbentuk endapan merah darah. Reaksi yang terjadi adalah :
SCN-(aq) + Fe3+ (aq) D Fe(SCN)3(s)
Selanjutnya endapan ditambahkan ion Na2C2O4, endapan yang terbentuk larut dan warnanya coklat keemasan. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
Fe(SCN)3(s) + 3 C2O42-(aq) [Fe(C2O4)3]3-(aq) + 3 SCN-(aq)

4.7 Identifikasi ion Nitrit (NO2-)
a. Untuk identifikasi ion nitrit tidak dilakukan karena larutan uji NaNO2 tidak tersedia di laboratorium. Tetapi secara teori jika NaNO2 direaksikan dengan AgNO3 akan menghasilkan endapan putih dari AgNO2. Dengan reaksi sebagai berikut:
NO2-(aq) + Ag+(aq) AgNO2(s)
Jika larutan NaNO2 ditambahkan larutan KMnO4 dalam suasana asam, maka warna ungu dari KMnO4 menghilang. Adapun reaksinya adalah:
5NO2-(aq) + 2MnO4-(aq) + 6H+(aq) 5NO3-(aq) + 2Mn2+(aq) + 3H2O(l)
Reaksi ini merupakan reaksi redoks dimana MnO4- merupakan oksidator kuat yang mengoksidasi NO2- menjadi NO3- dimana biloks N pada ion nitrit adalah +3 mengalami oksidasi menjadi +5. Sementara itu, MnO4- dengan biloks +7 mengalami reduksi menjadi Mn2+ dengan biloks +2.
Jika larutan NaNO2 ditambahkan larutan FeSO4 25% yang berwarna kuning dan H2SO4 encer, terbentuk endapan cokelat. Adapun reaksinya sebagai berikut.
2 NO2-(aq) + H2SO4(aq) 2 HNO2(g) + SO42-(aq)
HNO2 merupakan senyawa hipotetik yaitu zat yang tidak stabil dan segera terurai menjadi zat lain sesuai dengan reaksi berikut:
3HNO2 H2O­(l) + NO2(g) + NO(g)
Gas NO yang terbentuk bereaksi dengan besi (II) sulfat menghasilkan cincin coklat, dimana reaksinya adalah:
Fe2+(aq) + SO42-(aq) + NO(g) [Fe.NO]SO4
Cincin coklat


4.8 Identifikasi ion Sulfida (S2-)
Untuk prosedur ini tidak dilakukan karena tidak terdapat larutan Na2S di laboratorium. Namun, secara teoritis ketika penambahan larutan AgNO3 pada larutan uji akan terbentuk endapan hitam dari Ag2S yang bila ditambahkan HNO3 encer panas akan melarut (dalam HNO3 encer dingin tidak larut). Dengan reaksi sebagai berikut.
S2-(aq) + Ag+(aq) → Ag2S(s)↓

4.9 Identifikasi ion Asetat (CH3COO-)
a. Untuk identifikasi ion asetat digunakan larutan uji CH3COONa. Setelah larutan uji ditambahkan larutan FeCl3 terbentuk larutan cokelat dari ion kompleks [Fe3(OH)2(CH3COO)6]+, sesuai dengan reaksi :
6CH3COO-(aq) + 3Fe3+(aq) + 2H2O(l)→ [Fe3(OH)2(CH3COO)6]+(aq) + 2H+(aq)
Jika larutan ini dipanaskan, menghasilkan endapan merah coklat dari besi (III) asetat. Reaksi yang terjadi adalah :
[Fe3(OH)2(CH3COO)6]+(aq) + 2H2O(l) 3Fe(OH)2CH3COO(s)
+ 3CH3COOH(aq) + H+(aq)

b. Penambahan larutan AgNO3 ke dalam larutan uji CH3COONa menghasilkan endapan kristalin putih sesuai dengan reaksi :
CH3COO-(aq) + Ag+(aq) D CH3COOAg(s)
Kemudian dilanjutkan dengan penambahan HNO3 encer dan setelah penambahan HNO3 encer, endapan melarut:
CH3COOAg(s) + HNO3(aq) AgNO3(aq) + CH3COOH(aq)
Setelah larutan uji ditambahkan dengan asam nitrat encer panas, mula-mula terbentuk endapan yang banyak. Lama-kelamaan endapan menjadi sedikit yang terbentuk. Setelah dipanaskan, endapan menghilang atau melarut kembali.

4.10 Identifikasi ion Karbonat (CO32-)
a. Pada percobaan ini digunakan larutan larutan uji Na2CO3. Penambahan asam sulfat encer ke dalam larutan uji NaCO3 menghasilkan larutan tak berwarna dan terjadi perubahan pada batang gelas yang dibasahi larutan Ca(OH)2. Perubahannya yaitu terbentuk bercak-bercak berwarna putih dari CaCO3. Reaksi yang terjadi adalah :
Na2CO3 + H2SO4 NaSO4 + H2CO3(aq)
Larutan H2CO3 yang terbentuk ini dapat mengalami reaksi lebih lanjut menjadi H2O dan CO2, sesuai dengan reaksi :
H2CO3(aq) H2O(l) + CO2(g)
Gas CO2 yang terbentuk ketika ditangkap dengan batang gelas yang telah dibasahi oleh Ca(OH)2, dimana dapat diamati terdapat goresan putih yang menempel pada batang pengaduk. Hal ini sesuai dengan reaksinya :
CO2(g) + Ca(OH)2(aq) CaCO3(s)(putih) + H2O(l)
b. Penambahan larutan barium klorida ke dalam larutan uji Na2CO3 akan membentuk endapan putih barium karbonat, sesuai dengan reaksi :
Ba2+(aq) + CO32-(aq) BaCO3(s)
Endapan ini dapat larut dalam asam mineral encer dan asam karbonat dengan reaksi :
BaCO3(s) + 2H+(aq) Ba2+(aq) + CO2(g) + H2O(l)
BaCO3(s) + CO32-(aq) + H2O Ba2+(aq) + 2HCO3-(aq)

4.11 Identifikasi ion Oksalat (C2O42-)
a. Pada identifikasi anion ini, digunakan larutan uji Na2C2O4. Ke dalam larutan uji ini ditambahkan dengan larutan AgNO3 sehingga terbentuk endapan yang berwarna putih dari Ag2C2O4. Reaksi yang terjadi adalah :
C2O42-(aq) + 2Ag+(aq) ® Ag2C2O4(s) ¯
Endapan oksalat ini ditambahkan dengan larutan amonia dan asam nitrat encer, ternyata endapan ini larut. Reaksi yang terjadi adalah :
Ag2C2O4(s) + 4NH3 ® 2[Ag(NH3)2]+ + C2O42-(aq)
Ag2C2O4(s) + 2H+(aq) ® 2Ag+(aq) + C2O42-(aq) + 2H+(aq)
b. Selanjutnya larutan uji natrium oksalat ini direaksikan dengan larutan barium klorida (BaCl2) yang menghasilkan endapan yang berwarna putih dari barium oksalat, larut dalam larutan asam nitrat encer dan asam klorida encer (larutan menjadi bening setelah ditambahkan dengan asam klorida encer dan asam nitrat encer). Reaksi yang terjadi antara larutan natrium oksalat dengan larutan barium klorida adalah sebagai berikut:
C2O42-(aq) + Ba2+(aq) ® Ba2C2O4(s) ¯
c. Identifikasi yang terakhir dilakukan dengan menggunakan pereaksi kalium permanganat yaitu mereaksikan larutan kalium permanganat (KMnO4) dengan larutan natrium oksalat, sehingga warna permanganat yang semula berwarna ungu menjadi hilang. Adapun reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
C2O42-(aq) + 2MnO4-(aq) + 16H+ (aq) ® 10 CO2(aq) ­ + 2Mn2+(aq) + 8H2O(l)

4.12 Identifikasi ion Posfat (PO43-)
a. Untuk identifikasi ion pospat tidak dilakukan karena larutan uji K2HPO4 tidatk tersedia dilaboratorium. Tetapi secara teori, jika larutan K2HPO4 direaksikan dengan larutan BaCl2 akan etrbentuk terbentuk endapan putih dari barium pospat dengan reaksi sebagai berikut.
K2HPO4(aq) ® 2K+(aq) + HPO42-(aq)
HPO2-(aq) H+(aq) + PO43-(aq)
PO43-(aq) + Ba2+(aq) → Ba3(PO4)2(s)↓
Ion bifosfat dapat bersifat sebagai asam dan dapat bersifat sebagai basa. Ketika ion ini bersifat sebagai asam, maka ion ini akan menghasilkan ion PO43- seperti ionisasi diatas. Sedangkan bila ion tersebut bersifat sebagai basa maka akan diperoleh ion H2PO4-. Adapun reaksinya adalah:
HPO42-(aq) OH-(aq) + H2PO4-(aq)
b. Jika larutan K2HPO4 ditambahkan dengan larutan feri klorida (FeCl3) maka akan menghasilkan endapan putih kekuningan dari besi (III) fosfat (FePO4). Endapan ini larut dalam asam-asam mineral encer, tetapi tidak larut dalam asam asetat encer. Reaksi yang terjadi adalah :
HPO42-(aq) + Fe3+(aq) ® FePO4(s) ¯ + H+(aq)

4.13 Identifikasi ion Tiosulfat (S2O32-)
a. Untuk identifikasi ion tiosulfat digunakan larutan uji Na2S2O3. Ke dalam larutan natrium tiosulfat ini ditambahkan larutan asam sulfat encer terjadi perubahan pada larutan (terbentuk gas yang berbau rangsang dan terbentuk endapan sulfur). Reaksi yang terjadi adalah :
S2O32-(aq) + 2H+ (aq) ® S(s)↓ + SO2(g) ­ + H2O(l)
b. Selanjutnya digunakan pereaksi perak nitrat (AgNO3). Larutan perak nitrat ini ditambahkan ke dalam larutan uji, mula-mula terbentuk endapan putih dari Ag2S2O3 yang selanjutnya berubah warna menjadi coklat dan akhirnya berubah menjadi hitam, dimana perubahan warnanya berlangsung sangat cepat. Adapun reaksi pembentukan endapan ini adalah :
S2O32-(aq) + 2Ag+(aq) ® Ag2S2O3(s) ¯
Cokelat
Mula-mula tidak terjadi endapan, karena terbentuk kompleks ditiosulfatoargentat (I) yang larut. Reaksinya adalah :
S2O32-(aq) + 2Ag+(aq) ® [Ag(S2O3)2]3-(aq) ¯
Endapan ini tidak stabil, sehingga berubah warna menjadi gelap setelah didiamkan, dimana terbentuk perak sulfida, sesuai dengan reaksi :
Ag2S2O3(s) ¯ + H2O(l) ® Ag2S(s) ¯ + 2H+(aq) + SO42-(aq)
4.14 Identifikasi ion Sulfat (SO42-)
a. Untuk identifikasi ion sulfat, digunakan larutan uji Na2SO4. Larutan natrium sulfat ini ditambahkan dengan larutan barium klorida (BaCl2), sehingga terbentuk endapan putih dari barium sulfat (BaSO4). Endapan sulfat ini tidak larut dalam air. Reaksi yang terjadi adalah :
SO42-(aq) + Ba2+(aq) ® BaSO4(s) ¯
Endapan sulfat ini tidak larut dalam asam klorida (HCl) encer dan asam nitrat (HNO3) encer, tetapi dapat larut dalam asam klorida pekat panas.
b. Selanjutnya digunakan pereaksi lain yaitu larutan timbal nitrat (Pb(NO3)2) yang ditambahkan ke dalam larutan natrium sulfat, sehingga terbentuk endapan putih dari PbSO4. Endapan PbSO4 ini larut dalam asam sulfat pekat panas dan dalam amonium asetat. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
SO42-(aq) + Pb2+(aq) ® PbSO4(s) ¯
4.15 Identifikasi ion Nitrat (NO3-)
a. Untuk identifikasi ion nitrat digunakan larutan uji kalium nitrat (KNO3). Larutan kalium nitrat ini ditambahkan dengan larutan asam sulfat pekat, terbentuk gas yang berwarna coklat kemerahan, dan larutan yang bening. Gas berwarna ini merupakan gas nitrogen dioksida (NO2). Reaksinya adalah sebagai berikut :
4NO3(aq)- + 2H2SO4(aq) ® 4NO2(g) ­ + O2(g) ­ + 2SO42-(aq) + H2O(l)
b. Identifikasi dalam suasana alkalis (basa) dengan menambahkan logam aluminium (Al) atau seng (Zn) tidak dilakukan karena logam Al atau Zn tidak disediakan pada waktu praktikum. Tetapi secara teoritis jika NO3- direaksikan dengan Al atau Zn pada suasana alkalis (basa), maka akan terbentuk gas ammonia. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
3NO3-(aq) + 8Al(s) + 5OH-(aq) + 18H2O(l) ® 3NH3(g) ­ + 8[Al(OH)4]-(aq)
Untuk membuktikan adanya gas ammonia ini, gas yang dihasilakn dapat dideteksi dengan menggunakan kertas lakmus merah dimana lakmus merah akan berubah menjadi biru. Hal ini dikarenakan NH3 merupakan basa.
A. Identifikasi larutan sampel nomor 7 (sampel unknown 7)
Larutan uji ditambahkan dengan larutan FeCl3 dan menghasilkan perubahan warna dimana warna larutan awal adalah bening berubah menjadi merah kecoklatan. Setelah dipanaskan, akan menghasilakan endapan merah coklat. Berdasarkan data perubahan warna ini, maka dapat disimpulkan bahwa anion yang terkandung dalam sampel nomor 7 adalah ion asetat. Hal ini sesuai dengan uji pada nomor 4.9. Endapan merah kecoklatan merupakan warna dari [Fe3(OH)2(CH3COO)6]-. Sedangkan endapan merah yang timbul setelah dipanaskan adalah senyawa besi(III)asetat. Namun ketika ditambahkan dengan larutan AgNO3, tidak terbentuk endapan berwarna putih dari perak(I)asetat. Hal ini mungkin disebabkan karena konsentrasi dari ion asetat yang kecil pada larutan sampel sehingga hasil kali konsentrasi ion-ionnya lebih kecil dari Ksp perak(I)asetat atau Ksp’<>

B. Identifikasi larutan sampel nomor 8
Larutan uji ditambahkan dengan dengan larutan AgNO3 membentuk endapan berwarna putih kekuningan dan larutan menjadi keruh. Setelah didiamkan sebentar, terbentuk zat berwarna keperakan. Setelah larutan uji ditambahkan dengan larutan BaCl2 larutan tetap bening. Begitu pula ketika ditambahkan dengan larutan NaCl tidak terjadi perubahan apapun. Setelah ditambahkan dengan larutan ammonia, maka endapan akan melarut dan larutan menjadi bening. Berdasarkan fakta-fakta diatas dapat disimpulkan bahwa sampel 8 mengandung ion bromida (ion Br-). Hal ini sesuia dengan warna dari endapan yang dihasilkan yaitu agak berwarna kuning (warna kuningnya memiliki intensitas yang rendah, mungkin disebabkan oleh konsentrasi larutan uji yang kecil). Endapan yang berwarna perak timbul setelah endapan didiamkan merupakan logam perak. Hal ini sesuai dengan sifat dari AgBr yang peka terhadap cahaya. Jika AgBr terkena cahaya, ia akan terurai menjadi Ag dan Br2 sesuai persamaan reaksi berikut
AgBr(s) Ag(s) + Br2(l)

V. SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : reaksi yang dialami beberapa anion dapat didentifikasi dengan mengenal bentuk dan warna hasil reaksinya :
1. Ion klorida dapat diidentifikasi dengan penambahan larutan AgNO3 ke dalam larutan uji, maka akan terbentuk endapan putih dari AgCl
2. Identifikasi ion bromida dapat dilakukan dengan penambahan larutan asam sulfat pekat ke dalam larutan uji, maka akan terbentuk HBr dan Br2, sehingga larutan akan menjadi coklat, dan jika dipanaskan akan keluar uap berwarna kuning coklat. Jika ditambahkan larutan AgNO3 ke dalam larutan uji, maka akan terbentuk endapan kuning dari AgBr.
3. Identifikasi ion iodida dilakukan dengan penambahan larutan AgNO3 ke dalam larutan uji, maka akan terbentuk endapan kuning dari AgI.
4. Identifikasi ion ferrosianida dilakukan dengan penambahan larutan garam timbal pekat ke dalam larutan uji, maka akan terbentuk endapan putih dari Pb2[Fe(CN)6].
5. Identifikasi ion ferrisianida dilakukan dengan penambahan larutan AgNO3 ke dalam larutan uji, maka akan menghasilakan endapan merah oranye dari Ag3[Fe(CN)6]. Jika ditambahkan dengan larutan CuSO4, akan terbentuk endapan hijau dari kupriferrisianida.
6. Identifikasi ion tiosianat dapat dilkukan dengan penambahkan larutan AgNO3 ke dalam larutan uji, maka terbentuk endapan putih perak tiosianat yang larut dalam amonia tetapi tidak larut dalam HNO3 encer. Jika ditambahkan larutan garam ferri ke dalam larutan uji, maka terbentuk endapan merah darah. Setelah ditambahkan dengan larutan oksalat, terbentuk warna coklat keemasan.
7. Identifikasi ion asetat dapat dilakukan dengan penambahan larutan ferri klorida ke dalam larutan uji, maka terbentuk larutan berwarna coklat dari {Fe3(OH)2(CH3COO)6}- yang dengan pemanasan akan menghasilkan endapan merah coklat dari besi (III) asetat.
8. Identifikasi ion karbonat dapat dilakukan dengan penambahan larutan asam sulfat pekat ke dalam larutan ini, maka akan terbentuk gelembung gas dan endapan putih pada batang gelas yang dibasahi Ca(OH)2. Jika ditambahkan larutan barium klorida ke dalam larutan uji, maka akan terbentuk endapan putih barium karbonat.
9. Identifikasi ion oksalat dapat diidentifikasi dengan penambahan larutan AgNO3 ke dalam larutan uji, maka akan terbentuk endapan putih Ag2C2O4. Jika ditambahkan larutan barium klorida ke dalam larutan uji, maka akan terbentuk endapan putih BaC2O4. Dan jika direaksikan dengan larutan kalium permanganate, maka warna ungu dari permanganate akan menghilang.
10. Identifikasi ion tiosulfat dapat dilakukan dengan penambahan larutan asam sulfat encer ke dalam larutan uji, maka akan timbul gas yang berbau merangsang dan endapan sulfur. Jika ditambahkan larutan AgNO3 ke dalam larutan uji, maka akan terbentuk endapan putih dari Ag2S2O3 yang selanjutnya berubah warna menjadi coklat dan akhirnya menjadi hitam dari Ag2S.
11. Identifikasi ion sulfat dapat dilakukan dengan penambahan larutan barium klorida ke dalam larutan uji, maka akan terbentuk endapan putih dari barium sulfat. Jika ditambahkan larutan timbal nitrat ke dalam larutan uji, maka akan terbentuk endapan putih dari timbal sulfat.
12. Identifikasi ion nitrat dapat dilakukan dengan penambahan larutan asam sulfat pekat ke dalam larutan uji, maka akan terbentuk gas NO2 yang berbau dan berwarna coklat, disamping juga gas O2.
JAWABAN PERTANYAAN
1. Pada prosedur 4.14.b, endapan putih dari timbal sulfat dapat larut kembali dalam asam sulfat pekat panas dan dalam amonium asetat. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
§ Endapan timbal asetat dapat larut dalam asam sulfat pekat panas karena terbentuknya timbal hidrogen sulfat. Adapun reaksinya adalah :
PbSO4 ↓ + H2SO4 → Pb2+ + 2HSO4-
§ Endapan timbal sulfat larut dalam larutan amonium asetat yang agak pekat karena terbentuknya ion-ion tetraasetatoplumbat (II) dan ditartratoplumbat (II). Adapun reaksinya adalah :
PbSO4 ↓ + 4CH3COO- → [Pb(CH3COO)4]2- + SO42-
Ion tetraasetatoplumbat (II)
PbSO4 ↓ + 2C2H4O62- → [Pb(C4H4O6)2]2- + SO42-
Ion ditartratoplumbat (II)
2. Adapun reaksi-reaksi yang terjadi pada prosedur diatas adalah sebagai berikut.
Cl-(aq) + Ag+(aq)→ AgCl(s)
AgCl ↓ + 2NH3 → [Ag(NH)2]+ + Cl­-
[Ag(NH)2]+ + Cl­- + H+ → AgCl + NH4+
KBr + H2SO4 → HBr↑ + HSO4- + K+

Br -(aq) + Ag+(aq) →AgBr↓
2I-(aq) + 2H2SO4(aq) → I2↑ + SO42-(aq) + 2H2O
I-(aq) + H2SO4(aq) → HI↑ + HSO4-(aq)
6I-(aq) + 4H2SO4(aq) → 3I2↑ + S ↓ + 2H2O(l) + 3SO42-(aq)
8I-(aq) + 5H2SO4(aq) → 4I2↑ + 4SO42-(aq) + 4H2O + H2S↑
[Fe(CN)6]4- + 6H2SO4 + 6H2O → Fe2+ + 6NH4+ + 6CO↑ + 2H2O
Fe(CN)63- + 3Ag+ Ag3[Fe(CN)6]
SCN- + Ag+ AgSCN
Fe2+ + SO42- + NO [Fe.NO]SO4
Cincin coklat
6CH3COO- + 3Fe3+ + 2H2O(l)→ [Fe3(OH)2(CH3COO)6]+ + 2H+
[Fe3(OH)2(CH3COO)6]+ + 2H2O 3Fe(OH)2CH3COO + 3CH3COOH + H+
CH3COO- + Ag+ CH3COOAg
CH3COOAg + HNO3 AgNO3 + CH3COOH
2AgNO3 2Ag + 2NO2 + O2
Na2CO3 + H2SO4 NaSO4 + H2CO3(aq)
H2CO3 H2O + CO2
CO2 + Ba(OH)2 BaCO3(putih) + H2O
Ba + + CO32- BaCO3
BaCO3 + 2H+ Ba2+ + CO2 + H2O
BaCO3 + CO3 + H2O Ba2+ + 2HCO3-
(COO)22- + 2Ag+ ® (COOAg)2 ¯
(COOAg)2 ¯ + 4NH3 ® 2[Ag(NH3)2]+ + (COO)22-
(COOAg)2 ¯ + 2H+ ® Ag+ + (COO)22- + 2H+
(COO)22- + Ba2+ ® (COO)2Ba ¯
5(COO)22- + 2MnO4- + 16H+ ® 10 CO2 ­ + 2Mn2+ + 8H2O
K2HPO4 ® 2K+ + HPO42-
HPO2- H+ + PO43-
PO43- + Ba2+ → Ba3(PO4)2↓
HPO42- OH- + H2PO4-
HPO42- + Fe3+ ® FePO4 ¯ + H+
S2O32- + 2H+ ® S↓ + SO2 ­ + H2O
S2O32- + 2Ag+ ® Ag2S2O3 ¯
S2O32- + 2Ag+ ® [Ag(S2O3)2]3- ¯
Ag2S2O3 ¯ + H2O ® Ag2S ¯ + 2H+ + SO42-
SO42- + Ba2+ ® BaSO4 ¯
SO42- + Pb2+ ® PbSO4 ¯
4NO3(aq)- + 2H2SO4(aq) ® 4NO2 ­ + O2 ­ + 2SO42- + H2O(l)
3NO3- + 8Al + 5OH- + 18H2O ® 3NH3 ­ + 8[Al(OH)4]-

3. Jika dalam prosedur dihasilkan gas yang tidak berwarna maka langkah yang dapat ditempuh untuk meyakinkan identifikasi yang dilakukan adalah dengan menangkap gas yang dihasilkan dengan indikator-indikator yang sesuai. Beberapa contoh indikator yang dapat digunakan unutk meyakinkan identifikasi gas yang tidak berwarna adalah:
§ Batang kaca yang dibasahi dengan amonia untuk menguji gas tidak berwarna (HCl) dari klorida
§ Dialirkan ke dalam air kapur untuk menguji gas tidak berwarna (CO dan CO2) yang dihasilkan dari oksalat, karbonat atau bikarbonat.
§ Ditangkap dengan kertas saring yang telah ditetesi larutan K2Cr2O7 untuk menguji gas tidak berwarna (SO2) dari sulfit.


DAFTAR PUSTAKA
Sastrawidana, I Dewa Ketut, dkk. 2001. Buku Penuntun Belajar Kimia Analitik Kualitatif. Singaraja: IKIP Negeri Singaraja
Selamat, I Nyoman dan I Gusti Lanang Wiratma. 2004. Penuntun Praktikum Kimia Analitik. Singaraja: IKIP Negeri Singaraja.
Sodiq, Ibnu, dkk. 2004. Common Text Book Kimia Analitik I. Malang : Universitas Negeri Malang
Svehla, G. 1985. Bagian I dan II Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta: PT. Kalman Media Pusaka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar