Jumat, 05 Maret 2010

Identifikasi Anion Pada Sampel Padat Non-Logam

Judul : Identifikasi Anion Pada Sampel Padat Non-Logam
Tujuan : Mengamati dan mengidentifikasi anion penyusun sampel berdasarkan jenis gas yang dihasilkan oleh asam
Hari/ Tanggal : Selasa/10 Maret 2009
Jurusan/Fakultas : Pendidikan Kimia/ MIPA
Nama Kelompok : 1. Putu Eka Surya Putra (NIM. 0713031001)
2. I Wayan Sugiata (NIM. 0713031002)
3. Luh Murniasih (NIM. 0713031010)
I. PENDAHULUAN
Metode analisis yang tersedia untuk mendeteksi anion tidaklah sesistematik seperti metode yang tersedia untuk analisis kation (Vogel, 1990).
Analisis anion diawali dengan uji pendahuluan untuk memperoleh gambaran ada tidaknya anion tertentu atau kelompok anion yang memiliki sifat-sifat yang sama. Selanjutnya diikuti dengan proses analisis yang merupakan uji spesifik dari anion tertentu. Beberapa uji pendahuluan dan uji identifikasi dapat dilakukan dalam fasa padatan, tetapi untuk memperoleh validitas pengujian yang tinggi biasanya dilakukan dalam keadaan larutan (Ibnu,dkk.,2004).
Berdasarkan sifat dari beberapa anion yang oleh asam akan diuraikan menghasilkan gas yang dapat dikenal. Maka anion dapat diidentifikasikan dengan menggunakan senyawa asam yang ditambahkan pada sampel yang berbentuk padat maupun cair. Salah satu senyawa asam yang dapat digunakan untuk mengenal anion penyusun sampel adalah asam sulfat. Asam ini merupakan asam kuat yang dalam pelarut air akan terionisasi hampir sempurna menghasilkan ion hidronium (H3O+). Dengan adanya anion lain dalam asam sulfat memungkinkan terbentuknya senyawa asam yang baru.
H2SO4 + H2O H3O+ + HSO4-
X- + H3O+ HX + H2O
Sebagian dari senyawa asam yang terbentuk mudah menguap dan yang lainnya mudah terurai menghasilkan oksida asam yang berwujud gas. Sifat-sifat ini dapat dipakai sebagai petunjuk untuk mengidentifikasi jenis anion sisa asam dengan mengenali sifat dari uap asam atau gas dari hasil peruraian asamnya. Hasil reaksi identifikasi terhadap jenis gas atau uap yang dihasilkan oleh senyawa tertentu yang bereaksi dengan asam sulfat pekat atau encer adalah sebagai berikut:


Hasil Uji dengan Asam Sulfat Pekat
Hasil Pengamatan Simpulan
1. Menghasilkan gas tidak berwarna, berbau dan berasap di udara. Dan bila kontak dengan batang kaca yang basah oleh amonia akan menghasilkan kabut putih. Uap HCl dari klorida

2. Menghasilkan gas berwarna merah dan membentuk kabut di udara serta berbau pedas. Gas HBr dan Br2 dari bromidanya

3. Menghasilkan gas berwarna kuning kehijauan, berbau tajam, memucatkan lakmus dan membirukan kertas saring yang dibasahi dengan larutan KI. Gas Cl2 dari klorida dalam pemberian oksidator

4. Menghasilkan uap (kabut) asam berbau tajam dan berwarna coklat kemerahan Gas HNO2 dan NO2 dari nitrat

5. Menghasilkan uap violet disertai bau tajam dari SO2 atau H2S. Gas HI dan I2 dari iodida

6. Menghasilkan gas berwarna kuning dalam keadaan dingin berbau khas dan dengan pemanasan baunya lebih tajam . Gas ClO2 dari klorat

7. Menghasilkan gas tidak berwarna, mengeruhkan air kapur, dibakar memberikan nyala biru dan tidak menghitam. Gas CO dan CO2 dari oksalat

8. Menghasilkan bau cuka. CH3COOH dari asetat
Hasil Uji Dengan Asam Sulfat Encer
Hasil Pengamatan Simpulan
1. Menghasilkan gas tidak berwarna dan tidak berbau serta membuat keruh air kapur.
Gas CO2 dari CO32- atau HCO3-

2. Menghasilkan gas berwarna merah coklat, mengubah warna kertas yang dibasahi larutan KI dan amilum menjadi biru.
Gas NO2 dari nitrit

3. Menghasilkan gas berwarna kuning kehijauan, berbau tajam, memerahkan dan selanjutnya memucatkan kertas lakmus, serta mengubah warna kertas yang dibasaghi dengan larutan KI dan amilum menjadi biru.
Gas Cl2 dari hipoklorit

4. Menghasilkan gas tidak berwarna dan berbau tajam, mengubah warna kertas saring yang basah oleh larutan K2Cr2O7 menjadi hijau dan menghilangkan warna fuschin.
Gas SO2 dari sulfit

5. Menghasilkan gas tidak berwarna, berbau busuk telur, mengubah warna kertas saring yang dibasahi dengan larutan Pb(CH3COO)2 menjadi hitam dan bila dibasahi dengan larutan CdSO4 berubah menjadi kuning.
Gas H2S dari sulfida


6. Menghasilkan gas tidak berwarna, bila dibakar menghasilkan nyala berwarna ungu dan bersifat sangat beracun Gas HCN dari sianida atau dari larutan heksasianoferat II dan III

7. Menghasilkan gas tidak berwarna, membuat nyala api membesar
Gas O2 dari peroksida dan alkali peroksida

8. Menghasilkan gas tidak berwarna , berbau pedas dan membuat keruh air kapur. Gas CO2 dan HCNO dari sianat.

II. ALAT DAN BAHAN

Nama Alat Jumlah
Tabung Reaksi 1 set
Batang Pengaduk 1 buah
Pipa pengalir gas 1 buah
Pemanas 1 buah
Spatula 1 buah
Pipet tetes 3 buah
Gelas ukur 100 mL 2 buah
Bahan Keterangan
H2SO4 encer Secukupnya
H2SO4 pekat Secukupnya
Ca(OH)2 Secukupnya
K2Cr2O7 Secukupnya
Pb(CH3COO)2 Secukupnya
NH4OH Secukupnya
KI beramilum Secukupnya
Lakmus Secukupnya
Kertas saring Secukupnya
Larutan fuschin Secukupnya



III. PROSEDUR KERJA
3.1 Identifikasi dengan H2SO4 encer
a. Tabung reaksi diisi dengan 2 mL H2SO4 encer dan ditambahkan 0,1 gram sampel padat non logam. Perubahan kimia yang terjadi diamati dan dilakukan pemanasan bila diperlukan serta sifat fisik gas yang dihasilkan dicatat seperti bau, warna dan bentuk gas.
b. Gas yang dihasilkan dialirkan ke dalam larutan Ca(OH)2 dan dan perubahan fisik yang terjadi diamati dan dicatat..
c. Gas yang dihasilkan pada langkah a ditangkap dengan kertas yang telah dibasahi dengan larutan KI beramilum dan perubahan fisik yang terjadi diamati dan dicatat.
d. Gas yang dihasilkan pada langkah a ditangkap dengan kertas yang dibasahi dengan larutan K2Cr2O7 berasam dan perubahan fisik yang terjadi diamati dan dicatat..
e. Gas yang dihasilkan pada langkah a ditangkap dengan kertas yang telah dibahasi dengan larutan Pb(CH3COO)2 dan perubahan fisik yang terjadi diamati dan dicatat.
f. Gas yang dihasilkan pada langkah a ditangkap dengan kertas lakmus biru dan perubahan fisik yang terjadi diamati dan dicatat..
g. Gas yang dihasilkan pada langkah a ditangkap dengan nyala api dan perubahan fisik yang terjadi diamati dan dicatat..
h. Gas yang dihasilkan pada langkah a dialirkan pada larutan fuschin dan perubahan fisik yang terjadi diamati dan dicatat.
i. Langkah a sampai h diulangi terhadap sampel 2, 3 dan 4.
3.2 Identifikasi dengan H2SO4 pekat
a. Tabung reaksi diisi dengan 2 mL H2SO4 pekat dan ditambahkan 0,1 gram sampel padat non logam. Perubahan kimia yang terjadi diamati dan dilakukan pemanasan bila diperlukan serta sifat fisik gas yang dihasilkan dicatat seperti bau, warna dan bentuk gas.
b. Gas yang dihasilkan ditangkap dengan batang gelas yang telah dibasahi dengan NH4OH dan perubahan fisik yang terjadi diamati dan dicatat.
c. Gas yang dihasilkan pada langkah a ditangkap dengan kertas yang telah dibasahi dengan larutan KI beramilum dan perubahan fisik yang terjadi diamati dan dicatat.
d. Gas yang dihasilkan pada langkah a ditangkap dengan kertas lakmus biru dan perubahan fisik yang terjadi diamati dan dicatat..
e. Langkah a sampai d diulangi terhadap sampel 2, 3 dan 4.

IV. HASIL PENGAMATAN

No. Sampel padat Reagen Pengamatan
1. Sampel I H2SO4 encer · Ketika sampel I ditambahkan ke dalam tabus reaksi yang berisi H2SO4 encer, tidak terjadi apa-apa pada larutan dalam tabunng. Larutan tetap tetap berwarna bening. Setelah dipanaskan larutan tampak mengeluarkan gelembung yang diperkirakan akibat pemanasan, terjadi letupan dan muncul gas menyerupai asap putih dan tidak berbau. Warna larutannya tampak berubah agak kehijauan setelah pemanasan.
· Setelah dialirkan ke dalam larutan Ca(OH)2 tidak menimbulkan perubahan pada larutan tersebut. Yang tampak hanya gelembung yang mengindikasikan adanya gas.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas yang telah dibasahi dengan larutan KI beramilum, muncul asap keputihan yang cukup banyak yang keluar secara tersemprot-semprot. Pada kertas muncul bercak-bercak kecoklatan.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas yang telah dibasahi dengan larutan K2Cr2O7 warna kuning pada kertas akibat larutan K2Cr2O7 memudar.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas yang telah dibasahi dengan larutan Pb(CH3COO)2, tidak terjadi perubahan pada kertas tersebut.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas lakmus biru maka lekmus biru berubah warna menjadi merah.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan nyala api korek dan menyebabkan nyala api menjadi redup.
· Saat gas yang dihasilkan dialirkan ke dalam larutan fuschin (berwarna ungu) dan tidak menimbulkan perubahan.
H2SO4 pekat · Ketika sampel ditambahkan, larutan tetap bening, sampel sulit larut.
· Saat dipanaskan timbul gas, sampel mulai larut.
· Gas yang dihasilakn tidak berbau dan berwarna.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan batang gelas yang telah dibasahi dengan larutan NH4OH, timbul asap puith dan berbau ammonia.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas saring yang dibasahi dengan larutan KI beramilum, tidak ternjadi perubahan warna pada kertas KI beramilum.
· Saat gas ditangkap dengan kertas lakmus biru, kertas berubah menjadi merah.
2. Sampel II H2SO4 encer · Ketika sampel I ditambahkan ke dalam tabus reaksi yang berisi H2SO4 encer, tidak terjadi apa-apa pada larutan dalam tabunng. Larutan tetap tetap berwarna bening. Setelah dipanaskan larutan tampak mengeluarkan gelembung yang diperkirakan akibat pemanasan, terjadi letupan dan muncul bau cukup menyengat menyerupai bau asam (bau cuka).
· Setelah dialirkan ke dalam larutan Ca(OH)2 tidak menimbulkan perubahan pada larutan tersebut. Yang tampak hanya gelembung yang mengindikasikan adanya gas.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas yang telah dibasahi dengan larutan KI beramilum, tidak terjadi perubahan apa-apa.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas yang telah dibasahi dengan larutan K2Cr2O7, tidak terjadi perubahan.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas yang telah dibasahi dengan larutan Pb(CH3COO)2, tidak terjadi perubahan pada kertas tersebut.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas lakmus biru maka lekmus biru berubah warna menjadi merah.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan nyala api korek dan menyebabkan nyala api menjadi redup.
· Saat gas yang dihasilkan dialirkan ke dalam larutan fuschin (berwarna ungu) dan tidak menimbulkan perubahan.

H2SO4 pekat · Ketika ditambahkan dengan asam sulfat pekat, warna larutan tetap bening.
· Sebelum dipanaskan, gas yang dihasilkan tidak berbau dan berwarna.
· Ketika dipanaskan, timbul bau seperti bau cuka.
· Saat gas yang dihasilakn ditangkap dengan batang kaca yang dibasahi dengan larutan NH4OH.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas saring yang telah dibasahi dengan larutan KI beramilum.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas lakmus biru, warna kertas berubah menjadi merah.
3 Sampel III H2SO4encer · Ketika sampel I ditambahkan ke dalam tabus reaksi yang berisi H2SO4 encer, timbul banyak gelembung dan larutan menjadi keruh serta bila didinginkan muncul endapan. Ketika dipanaskan endapan kembali larut dan larutan keruh kembali. Setelah dipanaskan larutan tampak mengeluarkan gelembung yang diperkirakan akibat pemanasan, terjadi letupan dan muncul gas tidak berbau dan tak berwarna.
· Setelah dialirkan ke dalam larutan Ca(OH)2 tidak menimbulkan perubahan pada larutan tersebut. Yang tampak hanya gelembung yang mengindikasikan adanya gas.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas yang telah dibasahi dengan larutan KI beramilum, tidak terjadi perubahan.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas yang telah dibasahi dengan larutan K2Cr2O7, tidak terjadi perubahan.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas yang telah dibasahi dengan larutan Pb(CH3COO)2, tidak terjadi perubahan.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas lakmus biru maka lekmus biru berubah warna menjadi merah.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan nyala api korek dan menyebabkan nyala api menjadi padam.
· Saat gas yang dihasilkan dialirkan ke dalam larutan fuschin (berwarna ungu) dan tidak menimbulkan perubahan.
H2SO4 pekat · Saat ditambahkan kedalam larutan asam sulfat pekat, sampel cepat larut dan larutan berubah menjadi keruh.
· Gas yang dihasilkan sebelum pemanasan tidak berwarna dan berbau. Hal yang sama juga terjadi ketika gas yang dihasilkan melalui pemanasan.
· Saat gas yang dihasikan ditangkap dengan batang kaca yang telah dibasahi dengan larutan NH4OH, tidak timbul gas.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas saring yang telah dibasahi dengan larutan KI beramilum, tidak terjadi perubahan pada kertas tersebut.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas lakmus berwarna biru, kertas lakmus biru berubah menjadi merah.
4 Sampel IV H2SO4encer · Ketika sampel I ditambahkan ke dalam tabus reaksi yang berisi H2SO4 encer, tidak terjadi apa-apa dimana larutan tetap bening. Setelah dipanaskan larutan tampak mengeluarkan gelembung yang diperkirakan akibat pemanasan, terjadi letupan dan muncul gas tidak berbau dan tak berwarna.
· Setelah dialirkan ke dalam larutan Ca(OH)2 tidak menimbulkan perubahan pada larutan tersebut. Yang tampak hanya gelembung yang mengindikasikan adanya gas.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas yang telah dibasahi dengan larutan KI beramilum, tidak terjadi perubahan.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas yang telah dibasahi dengan larutan K2Cr2O7, tidak terjadi perubahan.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas yang telah dibasahi dengan larutan Pb(CH3COO)2, tidak terjadi perubahan.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas lakmus biru, tidak terjadi perubahan pada kertas lakmus biru tersebut (tetap berwarna biru).
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan nyala api korek dan menyebabkan nyala api menjadi redup.
· Saat gas yang dihasilkan dialirkan ke dalam larutan fuschin (berwarna ungu) dan tidak menimbulkan perubahan (warna larutan fuschin tetap ungu)
H2SO4 pekat · Saat sampel ditambahkan kedalam larutan asam sulfat pekat, sampel cepat larut.
· Saat dipanaskan, timbul gelembung-gelembung gas yang tidak berwarna dan berbau.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan batang kaca yang dibasahi sengan larutan NH4OH, timbul gas.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas saring yang telah dibasahi dengan KI beramilum, tidak terjadi perubahan pada kertas tersebut.
· Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan kertas lakmus biru, kertas lakmus biru berubah menjadi merah.

V. PEMBAHASAN
Identifikasi dengan H2SO4 encer untuk Sampel I
Pada tahap ini dilakukan uji terhadap sampel I. Saat sampel III yang berupa serbuk berwarna putih direaksikan dengan H2SO4, tidak tampak terjadi perubahan. Serbuk tersebut akan larut dan larutan tetap bening. Setelah dilakukan pemanasan tampak gas-gas berwarna putih seperti asap dan juga larutan tampak berubah menjadi kehijauan. Selanjutnya gas yang dihasilkan pada proses diatas kemudian dialirkan ke dalam larutan Ca(OH)2 yang merupakan larutan bening, hasilnya tidak menimbulkan perubahan warna pada larutan tersebut. Karena tidak terjadi perubahan, maka dilakukan pemanasan dengan memanaskan tabung pada nyala api Bunsen. Setelah dilakukan pemanasan juga tidak terjadi perubahan pada larutan Ca(OH)2 (larutan tetap bening).







Gambar 1. Sampel I dialirkan ke larutan Ca(OH)2
Selanjutnya gas diuji dengan larutan KI beramilum. Berdasarkan literatur yang diperoleh larutan KI beramilum merupakan suatu larutan berwarna hijau tua. Namun saat melakukan praktikum digunakan larutan KI bening yang diteteskan ke atas kertas saring lalu ditambahkan tetesan larutan amilum yang juga bening dimana campuran tetesan KI dan larutan amilum tidak menimbulkan warna hijau. Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas yang dibasahi larutan KI beramilum, muncul asap putih menyerupai kabut dan juga tampak terjadi perubahan dimana muncul bercak-bercak coklat kegelapan. Secara teori, kertas yang dibasahi larutan KI beramilum akan memberikan warna biru jika mengandung gas Cl2 ataupun NO2. Munculnya bercak coklat gelap tersebut diperkirakan karena dekatnya kertas dengan api bunsen, sedangkan bercak warna yang cenderung gelap mungkin karena adanya gas Cl2 dan NO2 dengan konsentrasi atau jumlah yang sangat kecil. Jadi dapat ditarik perkiraan bahwa sampel I mengandung Cl2 atau NO2.


Gambar 2. Kertas saring dibasahi larutan KI beramilum dan dialiri gas
Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas yang dibasahi larutan K2Cr2O7 yang berwarna kuning, tidak terjadi perubahan. Hal ini mungkin dikarenakan gas yang dihasilkan tidak bereaksi dengan larutan K2Cr2O7 dimana larutan K2Cr2O7 biasanya digunakan untuk mengidentifikasi gas SO2 dari sulfit. Dari hasil pengamatan ini dapat dinyatakan bahwa hasil uji K2Cr2O7 adalah negatif sehingga dapat ditarik perkiraan bahwa gas yang dihasilkan bukanlah gas SO2.


Gambar 3. Kertas saring dibasahi dengan larutan K2Cr2O7 kemudian dialiri gas
Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas yang dibasahi larutan Pb(CH3COO)2 yang tidak berwarna, tidak terjadi perubahan. Hal ini dikarenakan gas CO2 tidak bereaksi dengan larutan Pb(CH3COO)2 dimana Pb(CH3COO)2 biasanya digunakan untuk mengidentifikasi gas H2S dari sulfida. Dari hasil pengamatan ini dapat dinyatakan bahwa hasil uji Pb(CH3COO)2 adalah negatif sehingga dapat ditarik perkiraan bahwa gas yang dihasilkan bukanlah gas H2S. Bila terdapat H2S maka akan terjadi rekasi berikut:
Pb(CH3COO)2 + H2S š PbS + 2 CH3COOH





Gambar 4. Kertas saring dibasahi dengan larutan Pb(CH3COOH)2 kemudian dialiri gas


Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas lakmus biru maka lakmus biru berubah warna menjadi merah. Hal ini mengindikasikan bahwa gas yang dihasilkan dari sampel yang direaksikan dengan H2SO4 encer merupakan gas yang bersifat asam.
Gambar 5. Warna kertas lakmus setelah dialiri gas dari sampel I
Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan nyala api korek menyebabkan nyala api menjadi padam. Hal ini mungkin disebabkan karena salah satu sifat dari gas tersebut yang dapat meredupkan nyala api.
Saat gas yang dihasilkan dialirkan ke dalam larutan fuschin yang berwarna merah ternyata tidak menimbulkan perubahan pada warna larutan. Uji fuschin dilakukan untuk mengidentifikasi gas SO­2 dari sulfit, dimana warna fuschin akan hilang bila ujinya positif sehingga dapat ditarik perkiraan bahwa gas yang dihasilkan bukanlah gas SO2.
Jadi berdasarkan data-data hasil percobaan yang diperoleh maka diperkirakan gas mengandung Cl2 atau NO2. Namun setelah melihat lebih teliti dimana gas yang dihasilkan dari reaksi sampel I dengan H2SO4 menghasilkan gas yang tidak berwarna merah coklat (merah coklat adalah warna khas gas NO2) maka disimpulkan gas yang dihasilkan adalah gas Cl2 yang berasal dari anion klorida, Cl- (sampel I mengandung anion klorida).
Identifikasi dengan H2SO4 pekat untuk Sampel I
Pada tahap ini dilakukan uji terhadap sampel I. Saat sampel I yang berupa serbuk berwarna putih direaksikan dengan H2SO4 pekat dihasilkan gelembung-gelembung gas yang tidak berwarna dan tidak berbau. Gas ini kemudian dialirkan ke dalam larutan Ca(OH)2. Setelah gas tersebut dialirkan, tidak terjadi perubahan dimana larutan Ca(OH)2 tetap bening.
Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan batang gelas yang telah dibasahi NH4OH, terbentuk kabut putih yang cukup banyak (uji positif). Pengujian ini dilakukan untuk identifikasi gas Cl2. Jadi dapat ditarik perkiraan yang kuat bahwa gas yang dihasilkan adalah gas Cl2.
Selanjutnya gas diuji dengan larutan KI beramilum. Berdasarkan literatur yang diperoleh larutan KI beramilum merupakan suatu larutan berwarna hijau tua. Namun saat melakukan praktikum digunakan larutan KI bening yang diteteskan ke atas kertas saring lalu ditambahkan tetesan larutan amilum yang juga bening dimana campuran tetesan KI dan larutan amilum tidak menimbulkan warna hijau. Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas yang dibasahi larutan KI beramilum, muncul asap putih menyerupai kabut dan juga tampak terjadi perubahan dimana muncul bercak-bercak coklat kegelapan. Secara teori, kertas yang dibasahi larutan KI beramilum akan memberikan warna biru jika mengandung gas Cl2 ataupun NO2. Munculnya bercak coklat gelap tersebut diperkirakan karena dekatnya kertas dengan api bunsen, sedangkan bercak warna yang cenderung gelap mungkin karena adanya gas Cl2 dan NO2 dengan konsentrasi atau jumlah yang sangat kecil. Jadi dapat ditarik perkiraan bahwa sampel I mengandung Cl2
Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas lakmus biru maka lakmus biru berubah warna menjadi merah. Hal ini mengindikasikan bahwa gas yang dihasilkan dari sampel yang direaksikan dengan H2SO4 encer merupakan gas yang bersifat asam.
Jadi berdasarkan data-data hasil percobaan yang diperoleh maka disimpulkan gas yang dihasilkan adalah gas Cl2 yang berasal dari anion klorida, Cl- (sampel I mengandung anion klorida).
Identifikasi dengan H2SO4 encer untuk Sampel II
Pada tahap ini dilakukan uji terhadap sampel II. Saat sampel II yang berupa serbuk berwarna putih direaksikan dengan H2SO4 encer larutan tetap bening. Namun sesudah pemanasan pada nyala api bunsen muncul bau masam menyerupai bau cuka. Selanjutnya gas yang dihasilkan pada proses di atas kemudian dialirkan ke dalam larutan Ca(OH)2 yang merupakan larutan bening, hasilnya tidak menimbulkan perubahan warna pada larutan tersebut. Karena tidak terjadi perubahan, maka dilakukan pemanasan dengan memanaskan tabung pada nyala api bunsen. Setelah dilakukan pemanasan juga tidak terjadi perubahan pada larutan Ca(OH)2 (larutan tetap bening).


Selanjutnya gas diuji dengan larutan KI beramilum. Berdasarkan literatur yang diperoleh larutan KI beramilum merupakan suatu larutan berwarna hijau tua. Namun saat melakukan praktikum digunakan larutan KI bening yang diteteskan ke atas kertas saring lalu ditambahkan tetesan larutan amilum yang juga bening dimana campuran tetesan KI dan larutan amilum tidak menimbulkan warna hijau. Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas yang dibasahi larutan KI beramilum yang berwarna hijau tua, tidak tampak terjadi perubahan. Hal ini mungkin dikarenakan gas yang dihasilkan tidak bereaksi dengan larutan KI beramilum dimana larutan KI beramilum digunakan untuk mengidentifikasi Cl2 dan NO2 dari nitrit. Dari hasil pengamatan ini dapat dinyatakan bahwa hasil uji KI beramilum adalah negatif sehingga dapat ditarik perkiraan bahwa gas yang dihasilkan bukanlah gas Cl2 ataupun gas NO2.
Gambar 6. Kertas saring dibasahi dengan KI beramilum kemudian dialiri gas
Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas yang dibasahi larutan K2Cr2O7 yang berwarna kuning, tidak terjadi perubahan. Hal ini mungkin dikarenakan gas yang dihasilkan tidak bereaksi dengan larutan K2Cr2O7 dimana larutan K2Cr2O7 biasanya digunakan untuk mengidentifikasi gas SO2 dari sulfit. Dari hasil pengamatan ini dapat dinyatakan bahwa hasil uji K2Cr2O7 adalah negatif sehingga dapat ditarik perkiraan bahwa gas yang dihasilkan bukanlah gas SO2.
Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas yang dibasahi larutan Pb(CH3COO)2 yang tidak berwarna, tidak terjadi perubahan. Hal ini dikarenakan gas CO2 tidak bereaksi dengan larutan Pb(CH3COO)2 dimana Pb(CH3COO)2 biasanya digunakan untuk mengidentifikasi gas H2S dari sulfida. Dari hasil pengamatan ini dapat dinyatakan bahwa hasil uji Pb(CH3COO)2 adalah negatif sehingga dapat ditarik perkiraan bahwa gas yang dihasilkan bukanlah gas H2S. Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas lakmus biru maka lakmus biru berubah warna menjadi merah. Hal ini mengindikasikan bahwa gas yang dihasilkan dari sampel yang direaksikan dengan H2SO4 encer merupakan gas yang bersifat asam.
Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan nyala api korek menyebabkan nyala api menjadi padam. Hal ini mungkin disebabkan karena salah satu sifat dari gas tersebut yang dapat meredupkan nyala api.
Saat gas CO2 yang dihasilkan dialirkan ke dalam larutan fuschin yang berwarna merah ternyata tidak menimbulkan perubahan pada warna larutan. Uji fuschin dilakukan untuk mengidentifikasi gas SO­2 dari sulfit, dimana warna fuschin akan hilang bila ujinya positif sehingga dapat ditarik perkiraan bahwa gas yang dihasilkan bukanlah gas SO2.
Jadi berdasarkan data-data hasil percobaan yang diperoleh terutama dari munculnya bau masam menyerupai cuka maka disimpulkan gas yang dihasilkan berasal dari anion asetat, CH3COO- (sampel III mengandung anion asetat).
Identifikasi dengan H2SO4 pekat untuk Sampel II
Pada tahap ini dilakukan uji terhadap sampel III. Saat sampel III yang berupa serbuk berwarna putih direaksikan dengan H2SO4 pekat dihasilkan larutan bening yang berbau masam menyerupai bau cuka. Gas ini kemudian dialirkan ke dalam larutan Ca(OH)2. Setelah dialirkan, tidak tampak adanya perubahan yang terjadi dimana larutan tetap bening.
Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan batang gelas yang telah dibasahi NH4OH, tidak terjadi perubahan pada batang gelas (uji negatif). Pengujian ini dilakukan untuk identifikasi gas Cl2. Jadi dapat ditarik perkiraan bahwa gas yang dihasilkan bukan gas Cl2.
Selanjutnya gas diuji dengan larutan KI beramilum. Berdasarkan literatur yang diperoleh larutan KI beramilum merupakan suatu larutan berwarna hijau tua. Namun saat melakukan praktikum digunakan larutan KI bening yang diteteskan ke atas kertas saring lalu ditambahkan tetesan larutan amilum yang juga bening dimana campuran tetesan KI dan larutan amilum tidak menimbulkan warna hijau. Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas yang dibasahi larutan KI beramilum yang berwarna hijau tua, tidak tampak terjadi perubahan. Hal ini mungkin dikarenakan gas yang dihasilkan tidak bereaksi dengan larutan KI beramilum dimana larutan KI beramilum digunakan untuk mengidentifikasi Cl2 dan NO2 dari nitrit. Dari hasil pengamatan ini dapat dinyatakan bahwa hasil uji KI beramilum adalah negatif sehingga dapat ditarik perkiraan bahwa gas yang dihasilkan bukanlah gas Cl2 ataupun gas NO2.
Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas lakmus biru maka lakmus biru berubah warna menjadi merah. Hal ini mengindikasikan bahwa gas yang dihasilkan dari sampel yang direaksikan dengan H2SO4 encer merupakan gas yang bersifat asam.
Jadi berdasarkan data-data hasil percobaan yang diperoleh terutama dari munculnya bau masam menyerupai cuka maka disimpulkan gas yang dihasilkan berasal dari anion asetat, CH3COO- (sampel II mengandung anion asetat).
Identifikasi dengan H2SO4 encer untuk Sampel III
Pada tahap ini dilakukan uji terhadap sampel III. Saat sampel III yang berupa serbuk berwarna putih direaksikan dengan H2SO4 encer dihasilkan gelembung-gelembung gas yang tidak berwarna dan tidak berbau, larutannya tampak keruh dan muncul endapan putih bila didiamkan, bila dipanaskan kembali endapan tersebut akan larut. Selanjutnya gas yang dihasilkan pada proses dia atas kemudian dialirkan ke dalam larutan Ca(OH)2 yang merupakan larutan bening, hasilnya tidak menimbulkan perubahan warna pada larutan tersebut. Karena tidak terjadi perubahan, maka dilakukan pemanasan dengan memanaskan tabung pada nyala api bunsen. Setelah dilakukan pemanasan juga tidak terjadi perubahan pada larutan Ca(OH)2 (larutan tetap bening).







Gambar 7. Sampel III direaksikan dengan H2SO4
Selanjutnya gas diuji dengan larutan KI beramilum. Berdasarkan literatur yang diperoleh larutan KI beramilum merupakan suatu larutan berwarna hijau tua. Namun saat melakukan praktikum digunakan larutan KI bening yang diteteskan ke atas kertas saring lalu ditambahkan tetesan larutan amilum yang juga bening dimana campuran tetesan KI dan larutan amilum tidak menimbulkan warna hijau. Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas yang dibasahi larutan KI beramilum yang berwarna hijau tua, tidak tampak terjadi perubahan. Hal ini mungkin dikarenakan gas yang dihasilkan tidak bereaksi dengan larutan KI beramilum dimana larutan KI beramilum digunakan untuk mengidentifikasi Cl2 dan NO2 dari nitrit. Dari hasil pengamatan ini dapat dinyatakan bahwa hasil uji KI beramilum adalah negatif sehingga dapat ditarik perkiraan bahwa gas yang dihasilkan bukanlah gas Cl2 ataupun gas NO2.
Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas yang dibasahi larutan K2Cr2O7 yang berwarna kuning, tidak terjadi perubahan. Hal ini mungkin dikarenakan gas yang dihasilkan tidak bereaksi dengan larutan K2Cr2O7 dimana larutan K2Cr2O7 biasanya digunakan untuk mengidentifikasi gas SO2 dari sulfit. Dari hasil pengamatan ini dapat dinyatakan bahwa hasil uji K2Cr2O7 adalah negatif sehingga dapat ditarik perkiraan bahwa gas yang dihasilkan bukanlah gas SO2.
Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas yang dibasahi larutan Pb(CH3COO)2 yang tidak berwarna, tidak terjadi perubahan. Hal ini dikarenakan gas CO2 tidak bereaksi dengan larutan Pb(CH3COO)2 dimana Pb(CH3COO)2 biasanya digunakan untuk mengidentifikasi gas H2S dari sulfida. Dari hasil pengamatan ini dapat dinyatakan bahwa hasil uji Pb(CH3COO)2 adalah negatif sehingga dapat ditarik perkiraan bahwa gas yang dihasilkan bukanlah gas H2S.


Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas lakmus biru maka lakmus biru berubah warna menjadi merah. Hal ini mengindikasikan bahwa gas yang dihasilkan dari sampel yang direaksikan dengan H2SO4 encer merupakan gas yang bersifat asam.
Gambar 8. Warna kertas lakmus saat dialiri gas dari sampel III
Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan nyala api korek menyebabkan nyala api menjadi padam. Hal ini mungkin disebabkan karena salah satu sifat dari gas tersebut yang dapat memadamkan nyala api.
Saat gas CO2 yang dihasilkan dialirkan ke dalam larutan fuschin yang berwarna merah ternyata tidak menimbulkan perubahan pada warna larutan. Uji fuschin dilakukan untuk mengidentifikasi gas SO­2 dari sulfit, dimana warna fuschin akan hilang bila ujinya positif sehingga dapat ditarik perkiraan bahwa gas yang dihasilkan bukanlah gas SO2.
Jadi berdasarkan data-data hasil percobaan yang diperoleh maka disimpulkan gas yang dihasilkan adalah gas CO2 yang berasal dari anion karbonat, CO32- (sampel III mengandung anion karbonat). Berdasarkan teori, gas CO2 dihasilkan sesuai dengan persamaan reaksi berikut.
CO32- + 2 H+ → CO2(g) + H2O(l)
Reaksi lengkapnya untuk sampel III adalah sebagai berikut.
X2CO3(s) + H2SO4(aq) → X2SO4(aq) + H2CO3(aq)
H2CO3(aq) D CO2(g) + H2O(l)
Menurut teori, gas CO2 yang dihasilkan ditangkap oleh larutan Ca(OH)2 yang tidak berwarna dan terjadi reaksi sebagai berikut.
CO2(g) + Ca2+ + 2OH- → CaCO3(s) + H2O(l)
Reaksi lengkapnya sebagai berikut.

CaCO3 yang dihasilkan berupa endapan putih (gas CO2 mengeruhkan air kapur). Namun, pada percobaan yang praktikan lakukan, ketika dialirkan bke dalam larutan Ca(OH)2 tidak terbentuk larutan keruh walaupun sudah dipanaskan. Hal ini terjadi karena gas CO2 yang dihasilkan relatif sedikit (konsentrasi yang kecil). Selain itu juga hal ini disebabkan karena sampel yang digunakan bukanlah sampel yang pro-analisis dan reagen yang digunakan dalam hal ini Ca(OH)2 yang tersedia di laboratorium kemungkinan sudah tidak layak pakai. Disamping itu pula disebabkan karena alat yang digunakan kurang memadai dimana pipa pengalir gas bocor
Identifikasi dengan H2SO4 pekat untuk Sampel III
Pada tahap ini dilakukan uji terhadap sampel III. Saat sampel III yang berupa serbuk berwarna putih direaksikan dengan H2SO4 pekat dihasilkan gelembung-gelembung gas yang tidak berwarna dan tidak berbau. Gas ini kemudian dialirkan ke dalam larutan Ca(OH)2. Setelah dialirkan, terbentuk larutan yang keruh. Karena telah terjadi perubahan, maka tidak perlu dilakukan pemanasan dengan nyala api bunsen.
Karena menggunakan H2SO4 pekat maka dihasilkan gas yang lebih banyak. Gas yang dihasilkan kemudian dialirkan dalam larutan Ca(OH)2 (larutan ini telah diganti dengan yang baru). Karena larutan Ca(OH)2 yang digunakan masih baru menyebabkan mudahnya terjadi reaksi dengan gas yang menghasilkan larutan yang keruh.
Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan batang gelas yang telah dibasahi NH4OH, tidak terjadi perubahan pada batang gelas (uji negatif). Pengujian ini dilakukan untuk identifikasi gas Cl2. Jadi dapat ditarik perkiraan bahwa gas yang dihasilkan bukan gas Cl2.
Selanjutnya gas diuji dengan larutan KI beramilum. Berdasarkan literatur yang diperoleh larutan KI beramilum merupakan suatu larutan berwarna hijau tua. Namun saat melakukan praktikum digunakan larutan KI bening yang diteteskan ke atas kertas saring lalu
ditambahkan tetesan larutan amilum yang juga bening dimana campuran tetesan KI dan larutan amilum tidak menimbulkan warna hijau. Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas yang dibasahi larutan KI beramilum yang berwarna hijau tua, tidak tampak terjadi perubahan. Hal ini mungkin dikarenakan gas yang dihasilkan tidak bereaksi dengan larutan KI beramilum dimana larutan KI beramilum digunakan untuk mengidentifikasi Cl2 dan NO2 dari nitrit. Dari hasil pengamatan ini dapat dinyatakan bahwa hasil uji KI beramilum adalah negatif sehingga dapat ditarik perkiraan bahwa gas yang dihasilkan bukanlah gas Cl2 ataupun gas NO2.
Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas lakmus biru maka lakmus biru berubah warna menjadi merah. Hal ini mengindikasikan bahwa gas yang dihasilkan dari sampel yang direaksikan dengan H2SO4 encer merupakan gas yang bersifat asam.
Jadi berdasarkan data-data hasil percobaan yang diperoleh maka disimpulkan gas yang dihasilkan adalah gas CO2 yang berasal dari anion karbonat, CO32- (sampel III mengandung anion karbonat). Berdasarkan teori, gas CO2 dihasilkan sesuai dengan persamaan reaksi berikut.
CO32- + 2 H+ → CO2(g) + H2O(l)
Reaksi lengkapnya untuk sampel III adalah sebagai berikut.
X2CO3(s) + H2SO4(aq) → X2SO4(aq) + H2CO3(aq)
H2CO3(aq) D CO2(g) + H2O(l)
Menurut teori, gas CO2 yang dihasilkan ditangkap oleh larutan Ca(OH)2 yang tidak berwarna dan terjadi reaksi sebagai berikut.
CO2(g) + Ca2+ + 2OH- → CaCO3(s) + H2O(l)
Reaksi lengkapnya sebagai berikut.

CaCO3 yang dihasilkan berupa endapan putih (gas CO2 mengeruhkan air kapur).

Identifikasi dengan H2SO4 encer untuk Sampel IV
Pada tahap ini dilakukan uji terhadap sampel IV. Sampel IV yang berupa serbuk berwarna putih direaksikan dengan H2SO4 dan larutan tetap bening seperti awal. Selanjutnya gas yang dihasilkan pada proses dia atas kemudian dialirkan ke dalam larutan Ca(OH)2 yang merupakan larutan bening, hasilnya tidak menimbulkan perubahan warna pada larutan tersebut. Karena tidak terjadi perubahan, maka dilakukan pemanasan dengan memanaskan tabung pada nyala api bunsen. Setelah dilakukan pemanasan juga tidak terjadi perubahan pada larutan Ca(OH)2 (larutan tetap bening).
Selanjutnya gas diuji dengan larutan KI beramilum. Berdasarkan literatur yang diperoleh larutan KI beramilum merupakan suatu larutan berwarna hijau tua. Namun saat melakukan praktikum digunakan larutan KI bening yang diteteskan ke atas kertas saring lalu ditambahkan tetesan larutan amilum yang juga bening dimana campuran tetesan KI dan larutan amilum tidak menimbulkan warna hijau. Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas yang dibasahi larutan KI beramilum, muncul asap putih menyerupai kabut dan juga tampak terjadi perubahan dimana muncul bercak-bercak coklat kegelapan. Secara teori, kertas yang dibasahi larutan KI beramilum akan memberikan warna biru jika mengandung gas halogen karena gas halogen dapat mengoksidasi ion I- menjadi I2 dan I2 akan memberikan warna biru pada amilum, tetapi perubahan yang diharapkan tidak terjadi ketika gas yang dihasilkan dilewatkan pada kertas yang dibasahi larutan KI beramilum.
Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas yang dibasahi larutan K2Cr2O7 yang berwarna kuning, terjadi perubahan. Hal ini dikarenakan gas yang dihasilkan bereaksi dengan larutan K2Cr2O7.
Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas yang dibasahi larutan Pb(CH3COO)2 yang tidak berwarna, tidak terjadi perubahan. Hal ini dikarenakan gas yang dihasilkan tidak bereaksi dengan larutan Pb(CH3COO)2 dimana pada umumnya Pb(CH3COO)2 digunakan untuk mengidentifikasi gas H2S dari sulfida. Dari hasil pengamatan ini dapat dinyatakan bahwa hasil uji Pb(CH3COO)2 adalah negatif [tidak ada rekasi antara gas yang dihasilkan dengan Pb(CH3COO)2] sehingga dapat ditarik perkiraan bahwa gas yang dihasilkan bukanlah gas H2S yang berasal dari sulfide.


Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas lakmus biru, lakmus biru tidak berubah warnanya (warna kertas lakmus tetap berwarna biru). Hal ini mengindikasikan bahwa gas yang dihasilkan dari sampel yang direaksikan dengan H2SO4 encer merupakan gas yang tidak memiliki sifat asam.
Gambar 9. Warna kertas lakmus saat dialiri gas dari sampel IV
Saat gas yang dihasilkan ditangkap dengan nyala api korek menyebabkan nyala api menjadi padam. Hal ini mungkin disebabkan karena salah satu sifat dari gas tersebut yang dapat meredupkan nyala api (gas tersebut teroksidasi sempurna sehingga dapat meredupkan nyala api).
Saat gas yang dihasilkan dialirkan ke dalam larutan fuschin yang berwarna merah ternyata tidak menimbulkan perubahan pada warna larutan. Uji fuschin dilakukan untuk mengidentifikasi gas SO­2 dari sulfit, dimana warna fuschin akan hilang bila ujinya positif sehingga dapat ditarik perkiraan bahwa gas yang dihasilkan bukanlah gas SO2.

Identifikasi dengan H2SO4 pekat untuk Sampel IV
Pada tahap ini dilakukan uji terhadap sampel IV. Saat sampel IV yang berupa serbuk berwarna putih dan ketika direaksikan dengan H2SO4 pekat, sampel IV cepat larut. Dihasilkan gelembung-gelembung gas yang tidak berwarna dan tidak berbau ketika sampel IV bereaksi dengan H2SO4 pekat.
Ketika dipanaskan dengan nyala api Bunsen, larutan tetap bening seperti awal. Selain itu, gas yang dihasilkan juga tidak berbau dan berwarna. Selanjutnya gas yang dihasilkan ditangkap dengan batang gelas yang telah dibasahi dengan larutan NH4OH. Dihasilkan gas ketika batang gelas tersebut didekatkan ke mulut tabung reaksi.
Selanjutnya gas diuji dengan larutan KI beramilum. Berdasarkan literatur yang diperoleh larutan KI beramilum merupakan suatu larutan berwarna hijau tua. Namun saat melakukan praktikum digunakan larutan KI bening yang diteteskan ke atas kertas saring lalu ditambahkan tetesan larutan amilum yang juga bening dimana campuran tetesan KI dan larutan amilum tidak menimbulkan warna hijau. Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas yang dibasahi larutan KI beramilum, muncul asap putih menyerupai kabut dan juga tampak terjadi perubahan dimana muncul bercak-bercak coklat kegelapan. Secara teori, kertas yang dibasahi larutan KI beramilum akan memberikan warna biru jika mengandung gas Cl2 ataupun NO2. Munculnya bercak coklat gelap tersebut diperkirakan karena dekatnya kertas dengan api bunsen, sedangkan bercak warna yang cenderung gelap mungkin karena adanya gas Cl2 dan NO2 dengan konsentrasi atau jumlah yang sangat kecil. Jadi dapat ditarik perkiraan bahwa sampel I mengandung Cl2. Saat gas yang dihasilkan didekatkan dengan nyala api, api menjadi redup. Jadi gas yang dihasilkan memiliki kemampuam untuk memadamkan api.
Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas lakmus biru maka lakmus biru berubah warna menjadi merah. Hal ini mengindikasikan bahwa gas yang dihasilkan dari sampel yang direaksikan dengan H2SO4 pekat merupakan gas yang bersifat asam.
Saat gas yang dihasilkan dialirkan ke dalam larutan fuschin yang berwarna merah ternyata tidak menimbulkan perubahan pada warna larutan. Uji fuschin dilakukan untuk mengidentifikasi gas SO­2 dari sulfit, dimana warna fuschin akan hilang bila ujinya positif sehingga dapat ditarik perkiraan bahwa gas yang dihasilkan bukanlah gas SO2.
Saat gas yang dihasilkan diuji dengan kertas yang dibasahi larutan K2Cr2O7 yang berwarna kuning, terjadi perubahan. Perubahan yang terjadi adalah warna kuning pada kertas memudar. Hal ini dikarenakan gas yang dihasilkan bereaksi dengan larutan K2Cr2O7. Pada saat uji dengan kertas saring yang telah dibasahi dengan larutan Pb(CH3COO)2, tidak terjadi perubahan warna pada kertas tersebut.
Namun dalam penyimpulan mengenai anion apa yang terkandung dalam sampel IV ini terjadi kesalahan. Dimana pada sampel IV anion yang terkandung sebenarnya adalah nitrat (NO3-). Hal ini mungkin dikarenakan sampel IV telah tercemar dengan zat lain ketika pengambilan sampel pada saat praktikum. Ada sampel lain yang jatuh pada sampel IV atau spatula yang digunakan tidak untuk satu sampel saja, tetapi lebih dari dua sampel. Selain itu kemungkinan juga zat induknya sudah tercemar dengan zat lain sehingga parktikan mengalami kesalahan dalam penyimpulan mengenai jenis kation yang terdapat pada sampel IV.
VI. SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Idetifikasi anion pada sampel padat non-logam dapat dilakukan dengan cara menggunakan pereaksi khusus dimana setiap anion akan memiliki cirri-ciri yang khas.
2. Dari empat sampel yang diidentifikasi, dapat dikatahui:
a. Sampel I mengandung ion klorida (Cl-)
b. Sampel II mengandung ion asetat (CH3COO-)
c. Sampel III mengadung ion karbonat (CO32-)
d. Sampel IV mengandung ion nitrat (NO3-)

JAWABAN PERTANYAAN
1. Pada identifikasi anion dari padatan, penggunaan HCl juga dapat mengantikan reagen H2SO4 untuk beberapa reaksi saja, misalnya reaksi identifikasi anion CH3COO-. Namun pada uji identifikasi anion lain hal ini tidak bisa dilakukan karena keterbatasan sifat dari HCl. HCl hanya bertindak sebagai asam sedangkan H2SO4 dapat bertindak sebagai asam dan sebagai oksidator kuat. Misalnya, pada uji identifikasi anion Br-, I-, H2SO4 tidak bisa digantikan dengan HCl karena dalam hal ini asam sulfat berfungsi sebagai oksidator. Dengan demikian, pada uji identifikasi anion yang memerlukan oksidator kuat dari H2SO4 tidak dapat digantikan oleh HCl.
2. Pada prosedur 4.1d terjadi reaksi sebagai berikut:
CO2(g) + Ca2+ + 2OH- → CaCO3(s) + H2O(l)
Reaksi lengkapnya sebagai berikut.








DAFTAR PUSTAKA

Ibnu Sodig, dkk. 2004. Common Text Book Kimia Analitik I. Malang : Universitas Negeri Malang.
Dewa Ketut Sastrawidana dkk. 2001. Buku Penuntun Belajar Kimia Analitik Kuantitatif. Singaraja : IKIP Negeri Singaraja.
Selamat, I Nyoman dan I Gusti Lanang Wiratma. 2004. Penuntun Praktikum Kimia Analitik.
Singaraja : IKIP Negeri Singaraja.
Vogel. 1979. Buku Tekas Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Jilid II. Direvisi oleh Svehla. Jakarta : PT Kalman Media Pusaka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar